Senin, 20 Desember 2010


Dewan Keamanan PBB Gagal Sikapi Konflik Korea
Terjadi pertentangan siapa yang patut disalahkan dan bagaimana solusi atas konflik itu

Serangan artileri Korut di Yeonpyeong, Korsel, November 2010 (AP Photo/Yonhap)

Dewan Keamanan (DK) PBB gagal menyamakan sikap atas ketegangan di Semenanjung Korea. Situasi ini muncul saat Korea Selatan (Korsel) bersiap melakukan latihan perang lagi di dekat perbatasan, yang berpotensi kembali menimbulkan serangan dari Korea Utara (Korut) seperti pada akhir November lalu.

Dalam sidang yang berlangsung di Markas Besar PBB di New York, Minggu malam 19 Desember 2010 waktu setempat, para anggota utama DK tidak mampu bersepakat untuk mengatasi konflik antar dua negara Korea.

Laman stasiun televisi Arirang mengungkapkan, para diplomat anggota-anggota DK-PBB telah menghabiskan waktu tujuh jam untuk berdebat, namun belum ada hasil. "Tampaknya bisa diprediksi bahwa perbedaan-perbedaan yang masih ada belum bisa dijembatani," kata Duta Besar (Dubes) AS untuk PBB, Susan Rice, seperti yang dikutip laman stasiun televisi Press TV.

Dubes Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, juga mengatakan bahwa pembicaraan di DK belum ada hasil. Namun, dia menyatakan bahwa para anggota akan melanjutkan negosiasi untuk mengatasi perbedaan sikap.

Belum berhasilnya DK-PBB menyamakan sikap disebabkan oleh perbedaan pandangan antara sejumlah anggota utama yang punya hak veto (hak yang bisa digunakan untuk menggugurkan suatu rancangan resolusi).

China dan Rusia ingin agar Korsel menahan diri untuk tidak lagi menggelar latihan perang, yang akan dimulai Senin, 20 Desember 2010. Sebaliknya, AS keberatan dengan permintaan China dan Rusia.

Sebagai sekutu Korsel sejak Perang Korea 1950-1953, AS mendukung latihan perang, yang penting sebagai upaya antisipasi serangan dari Korut, yang selama ini mendapat dukungan dari China.

Dalam sidang, AS justru mempertanyakan sikap ambigu Rusia dan China, yang dinilai tidak menyalahkan Korut atas krisis yang terjadi, namun meminta Korsel menahan diri untuk tidak membalas serangan dari Pyongyang pada 23 November lalu.

Sebaliknya, delegasi AS, Inggris, Prancis, Jepang, dan Korsel mendukung usulan rancangan resolusi dari Inggris, yang isinya menyalahkan Korut sebagai penyulut krisis dan mengecam serangan artileri ke Pulau Yeonpyeong. Usulan resolusi dari Inggris itu justru ditolak Rusia dan China.   

Sementara itu, selain meminta kedua Korea saling menahan diri, Rusia mengusulkan agar Sekretaris Jenderal PBB mengirim utusan khusus ke Seoul dan Pyongyang untuk meredakan ketegangan, sehingga tidak mengarah ke perang terbuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar